Pembahasan Mendalam
1. Laporan Saham Berbasis Token Menyoroti Kesenjangan di DeFi (6 Oktober 2026)
Ringkasan: RedStone bersama sejumlah mitra riset menerbitkan laporan yang menunjukkan bahwa nilai saham berbasis token melonjak 395% menjadi $3,17 miliar dalam setahun hingga September 2026. Namun, hanya sekitar $81 juta (2,6%) yang digunakan sebagai jaminan di pasar pinjaman DeFi. Sementara itu, aktivitas untuk mendapatkan eksposur dengan leverage beralih secara signifikan ke kontrak berjangka perpetual di bursa terdesentralisasi (DEX).
Maknanya: Ini menjadi sinyal positif bagi RedStone karena menunjukkan adanya kebutuhan akan infrastruktur oracle yang dapat menetapkan harga aset dunia nyata (RWA) yang kompleks secara andal. “Kesenjangan DeFi” yang terungkap ini menjadi peluang pertumbuhan besar bagi protokol yang dilayani RedStone dan berpotensi meningkatkan permintaan atas umpan data RedStone. (The Defiant)
2. RedStone Masuk dalam Susunan Pembicara XRP Seoul 2026 (30 September 2026)
Ringkasan: RedStone diumumkan sebagai salah satu pembicara di konferensi XRP Seoul 2026, yang digelar dalam rangka Korea Blockchain Week. Acara ini mempertemukan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tokenisasi, pinjaman, dan infrastruktur blockchain. Ripple menjadi sponsor utama acara tersebut.
Maknanya: Ini merupakan kabar yang netral hingga positif bagi RedStone karena menunjukkan profilnya yang semakin dikenal sebagai penyedia infrastruktur penting di berbagai ekosistem utama. Keikutsertaan ini memperkuat jejaring RedStone di pasar yang menjadi prioritas dan sejalan dengan tren keuangan institusional yang memanfaatkan blockchain. (Bitcoin.com News)
3. Analisis Dominasi Korea dalam Perdagangan Kripto (29 September 2026)
Ringkasan: Laporan bersama RedStone dan Kaia, yang dikutip oleh The Seoul Standard, menyebutkan bahwa won Korea menyumbang sekitar 30% dari volume perdagangan spot kripto global. Laporan itu berpendapat bahwa ketiadaan stablecoin won yang diakui secara hukum telah menyebabkan arus keluar stablecoin senilai lebih dari $10 miliar dan sangat menghambat aktivitas DeFi di blockchain.
Maknanya: Hal ini penting secara strategis bagi RedStone karena menempatkan analisisnya di tengah pembahasan besar tentang regulasi dan pasar. Temuan tersebut juga menegaskan peran oracle dalam menghubungkan likuiditas keuangan tradisional dengan blockchain, sebuah gagasan utama yang dapat mendorong adopsi di masa depan. (Finbold)
Kesimpulan
RedStone semakin memperkuat perannya sebagai lapisan data dan analisis penting yang menghubungkan DeFi dengan aset dunia nyata berbasis token, sekaligus berfokus pada pasar-pasar Asia yang berpotensi besar. Akankah perkembangan regulasi di Korea Selatan membuka peluang penggunaan besar berikutnya bagi jaringan oracle RedStone?