Analisis Mendalam
1. Keruntuhan Teknis & Penjualan Volume Tinggi
Flow menembus di bawah level retracement Fibonacci 61,8% pada $0,0488, mempercepat aksi jual. Pergerakan ini dikonfirmasi oleh lonjakan volume 24 jam sebesar 368% menjadi $53,77 juta, menandakan tekanan jual yang kuat atau distribusi besar.
Arti dari ini: Keruntuhan ini menunjukkan perubahan struktur pasar dari fase konsolidasi menuju tren turun baru, dengan volume tinggi yang menguatkan sinyal bearish tersebut.
Perhatikan: Apakah harga dapat kembali menembus level Fibonacci 61,8% ($0,0488) sebagai resistance, atau terus menguji level 78,6% ($0,0448).
2. Sentimen Risiko Pasar yang Lebih Luas
Penurunan ini terjadi di tengah kehati-hatian pasar kripto yang lebih luas. ETF Bitcoin mengalami aliran keluar setelah sebelumnya masuk, menandakan permintaan institusional yang melemah (SoSoValue), sementara para trader bersiap menghadapi data inflasi CPI AS yang tertunda (Yahoo Finance).
Arti dari ini: FLOW, sebagai altcoin dengan volatilitas lebih tinggi (beta tinggi), mengalami tekanan jual yang lebih besar karena modal mengalir keluar dari aset berisiko selama ketidakpastian makroekonomi.
3. Perkiraan Pasar Jangka Pendek
Pemicu utama saat ini adalah laporan CPI AS. Jika data tersebut memicu sentimen risiko negatif, FLOW bisa menguji kembali level terendah $0,0397. Jika bertahan di atas level ini, kemungkinan akan terjadi konsolidasi dalam rentang $0,0397 hingga $0,0488.
Arti dari ini: Tren cenderung bearish di bawah $0,0488, namun lonjakan volume yang ekstrem juga bisa menandakan titik kejenuhan pasar sudah dekat.
Perhatikan: Reaksi pasar terhadap data CPI dan apakah volume FLOW menurun, yang menunjukkan tekanan jual mulai mereda.
Kesimpulan
Perkiraan Pasar: Tekanan Bearish
Penurunan tajam Flow didorong oleh keruntuhan teknis di tengah periode deleveraging pasar yang luas, tanpa adanya katalis spesifik dari koin itu sendiri.
Fokus utama: Apakah FLOW dapat menstabilkan volumenya dan bertahan di support $0,0397, ataukah katalis makro berikutnya akan mendorongnya ke level terendah tahunan baru?