Penjelasan Mendalam
1. Strategi Unlock & Vesting (Dampak Bearish)
Gambaran:
Sebanyak 25,5% dari total pasokan ZRO (255 juta token) akan dibuka secara bertahap setiap bulan mulai Juni 2025 untuk kontributor inti, dengan mitra strategis (32,2%) mengikuti jadwal serupa. Pembukaan senilai $46 juta pada Juni 2025 menandai awal fase ini, yang secara historis berhubungan dengan penurunan harga (misalnya, penurunan mingguan 17% sebelum unlock).
Arti bagi pasar:
Peningkatan pasokan dari dalam (insider) bisa menekan harga jika pemegang token menjual dalam jumlah besar, terutama saat pasar sedang bearish. Namun, jadwal vesting yang disiplin (selama 3 tahun) dapat mengurangi risiko penjualan panik.
2. Tata Kelola Biaya Protokol (Dampak Campuran)
Gambaran:
Pemegang ZRO memberikan suara dua kali setahun untuk mengaktifkan biaya protokol, yang akan membakar token dari biaya pesan lintas rantai. Referendum Desember 2025 gagal karena tidak mencapai kuorum 50,4% (LayerZero Governance).
Arti bagi pasar:
Penundaan aktivasi biaya ini menjaga pertumbuhan pengguna, tetapi menunda mekanisme deflasi. Jika berhasil pada pertengahan 2026, ZRO bisa sejajar dengan aset yang menghasilkan pendapatan seperti Ethereum, yang dapat meningkatkan valuasi.
3. Persaingan Interoperabilitas (Dampak Bullish)
Gambaran:
LayerZero mendukung lebih dari 70 blockchain, termasuk stablecoin berbasis Solana di Wyoming dan USDT0 milik Tether ($63 miliar dipindahkan pada 2025). Namun, Wormhole dan Axelar menjadi pesaing utama, terlihat dari persaingan atas akuisisi Stargate senilai $110 juta (The Block).
Arti bagi pasar:
Integrasi strategis seperti standar OFT pada USDT0 memperkuat kegunaan ZRO, tetapi tawaran tunai dari pesaing (misalnya, tawaran $120 juta Wormhole untuk Stargate) menunjukkan volatilitas tinggi di sektor ini.
Kesimpulan
Harga ZRO bergantung pada keseimbangan antara kejutan pasokan dari unlock token dengan permintaan yang didorong oleh adopsi. Perhatikan pemungutan suara biaya protokol pertengahan 2026 dan jadwal vesting bulanan. Apakah pembaruan protokol akan mampu mengimbangi risiko dilusi saat persaingan lintas rantai semakin ketat?